Tasyabbuh Tak disadari atau tidak Tahu

Segala Puji hanya Bagi Allah Pencipta dan Pengatur alam semesta,. shalawat dan salam semoga terlimpahkan selalu kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- amma ba’du.

Tradisi dan Tasyabbuh
Artikel ini ditulis karena seruan al-Qur’an saling menasehati dalam al-haq dan sabar. sekaligus mengajak untuk kembali kepada sunnah dan memaparkan kemukzizatan sebagai bukti nubuwwah yang diberikan Allah kepada RasulNya berupa berita tentang sesuatu yang akan datang yang telah dikabarkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- 14 abad yang lalu dan tidak termakan Zaman, sebagai bukti bahwa ad-Dien ini diturunkan untuk seluruh umat manusia hingga akhir Zaman.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umat ini bakal mengikuti tradisi umat-umat terdahulu. Hadits tersebut berbunyi.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً بِذِرَاعٍ, حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ, الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ» ؟ . رواه البخاري

“Artinya : Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang biawak(dhabb :sejenis biawak khusus padang pasir), kalian pasti mengikutinya. “Kami bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Siapa lagi kalau bukan mereka!” [Hadits Riwayat AL-Bukhari, silakan baca Fathul Bari, 8/300 dan Muslim hadits no. 2669]

Kajian kebahasaan :
Berita yang disampaikan Nabi menggunakan al-Qassam al-muqaddar(sumpah abstrak) dengan hurup laam dan Nun Taukid yang menyatakan penegasan yang sangat tegas. selain itu perawi menggunakan kata “Inna” yang juga berupa penegasan berita. ini berarti kalimat hadits tersebut seolah-olah mengabarkan

    “Demi Allah, sungguh benar-benar kalian akan mengikuti…”

Hadits ini shahih muttafaqun alaihi, tercantum dalam kitab-kitab shahih dan sunan
Syaikh al-‘Utsaimin –rahimahullah- menyatakan bahwa kalimat ‘Latattabi’unna’ diarahkan kepada orang banyak (jama’) bukan kepada orang per-orang (mufrad). Ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan di dalam hadits ini bukan makna zhahirnya bahwa semua umat ini akan mengikuti cara/metode orang-orang sebelum mereka tetapi maksudnya disini adalah bersifat ‘âmm khâsh’ (umum tetapi khusus) sebab ada diantara umat ini yang tidak mengikuti hal tersebut. Tetapi bisa jadi juga, maknanya tetap umum (general) tetapi meskipun demikian, tidak mesti bahwa umat ini mengikuti sunnah umat terdahulu dalam segala halnya. Bisa jadi, ada sebagian yang mengikuti sisi yang satu ini dan sebagian yang lain mengikuti sisi yang lainnya. Maka dengan demikian, hadits ini tidak dapat diartikan bahwa umat ini telah keluar dari dien al-Islam. Makna ini adalah lebih pas sehingga hadits tersebut tetap di dalam keumuman maknanya. Tentunya yang harus kita ketahui bahwa ada diantara cara-cara hidup (sunnah/metode) orang-orang terdahulu yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari dien ini seperti memakan riba, dengki, prostitusi dan dusta. Sebagian lagi ada yang mengeluarkan pelakunya dari dien ini seperti menyembah berhala.
Hadits tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan umat ini akan perihal tersebut sehingga mereka berhati-hati. Jadi, maknanya bukan menetapkan (iqrar) bahwa hal itu disetujui akan terjadinya sehingga membuat orang yang lemah imannya beralasan dengan hadits ini ketika akan melakukan perbuatan maksiat bahwa apa yang dilakukannya semata karena telah ditetapkan oleh Rasulullah sendiri. Sungguh ini merupakan ucapan dusta yang nyata terhadap beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Dalam beberapa matan dan lafalnya secara eksplisit hadist ini menjelaskan makna “menyerupai dan mengikuti” dimaksud. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Ibarat bulu-bulu anak panah yang sama persis”

Dan beberapa lafal lainnya yang sama menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahaya perpecahan yang bakal melanda umat ini. Bahwa hal itu pasti menimpa umat ini. Dan perpecahan yang bakal terjadi itu bukanlah cela dan cacat atas Islam, atas Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan atas Ahlul Haq, namun merupakan kecaman terhadap orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah. Orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah tentunya bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah, yang tetap berada di atas nilai-nilai ke-Islaman. Merekalah para penegak kebenaran yang dibangkitkan Allah kepada manusia hingga hari Kiamat.

hadits ini juga mengabarkan tidak ada sekecil apapun bid’ah yang dilakukan melainkan semakin lama semakin berakibat fatal secara tanpa disadari atau memang sengaja direkayasa. dapat dilihat dari makna kalimat “sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta…”.

Jenis tasyabuh itu sendiri bisa berupa:


A. mengikuti perayaan-perayaan yang dikhususkan untuk orang kafir.
1. Perayaan Natal dan tahun baru Masehi, sangat disayangkan sekali kaum muslimin mengikuti acara2 yang dibuat oleh Nashara, padahal setiap hari mereka minimal membaca 17x doa agar tidak digabungkan kepada golongan Yahudi dan Nasrani (lihat surat al-Fatihah).
perayaan Tahun Baru tersebut merupakan bagian dari aktifitas ritual agama Yahudi dan Majusi (yang disebut dengan ‘an-Nayrûz’). Oleh karena itu, merekalah yang sebenarnya memiliki misi merayakan dan memeriahkannya bukan kaum Muslimin.
2. Menjadikan kuburan sebagai masjid, “Rasulullah bersabda :”Allah melaknat Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :”Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) menjadikan kubur Nabi-nabi dan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid. Maka janganlah kalian menjadikan Kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu” (HR. Muslim).
dan masih banyak lagi tasyabbuh yang semakin merajalela sehingga ketika anda keluar rumah anda tidak mengenal antara orang muslim dan orang non-muslim kecuali setelah melihat mereka shalat. karena begitu miripnya manusia. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah “Ibarat bulu-bulu anak panah yang sama persis”

B. Jenis Tasyabbuh lainnya adalah membuat suatu kegiatan/ perayaan untuk menyaingi kuffar dengan kegiatan sejenis. teori yang dipakai oleh orang-orang yang seperti ini adalah ‘politik’ “mereka punya satu kita juga punya satu, mereka punya dua kita juga punya dua” sehingga tidak ada kegiatan meriah yang dilakukan kuffar kecuali orang islam memiliki sesuatu yang sama bahkan kalau bisa lebih meriah lagi.
contohnya :
1. Di Nasrani ada kegiatan kelahiran Isa al-Masih, di Islam ada kegiatan peringatan kegiatan Maulid Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. yang juga maksudnya menunjukkan bahwa islam juga punya kemeriahan dan pesta-pesta walaupun dengan demikian mereka melewati batas-batas syari’at.
2. Di kuffar ada Valentine day, di Islam dibuat Palestine Day.
3. Di Kuffar ada perayaan kenaikan Isa al-Masih di Islam juga sibuk mencari kesamaan dengan merayakan Kenaikan Isra dan Mi’raj. yang kesemuanya tidak ada dalam al-Qur’an dan sunnah. tapi untuk orang yang menelusuri asal muasalnya niscaya mereka akan menemukan hal ini adalah untuk menyaingi kemegahan, kemeriahan, kehura-huraan, kemubaziran harta seperti halnya orang-orang non-islam melakukannya.

C. Kebiasaan sehari-hari dan Pemikiran yang merupakan produksi kuffar.
seperti pemikiran Demokrasi, hak asasi, penyatuan agama, sekuler, liberal, filsafat.
Telah masyhur dikalangan kaum muslimin sebuah hadits “….Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka”.
Dari Abu Hurairah -radiallahu ‘anhu- Dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda :”cukurlah kumis dan biarkan jenggot, jangan menyamai majusi” (Muslim). cukuplah agama islam ini dengan apa yang diturunkan Allah kepada RasulNya, telah disampaikan semua hal yang baik oleh Rasulullah dan telah diperingati segala yang buruk oleh Beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang dinukil dari orang-orang terpercaya dan shalih.

semoga kita diberi hidayahNya serta pertolonganNya yang menyelamatkan kita dari kesesatan di dunia dan keselamatan di akherat dari siksa neraka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: