Dzikir = Shalat ?

Ada yang mengatakan “Shalat kan sama saja denga dzikir, ini berarti kalo shalat berjamaah sunnah (padahal wajib), maka dzikir berjamaah juga sunnah”. mungkin ini dalil yang dilontarkan ahlu syubhat kepada anda. lalu bagaimana anda menjawabnya?
jika ada yang menyamaratakan hukum dzikir dengan hukum shalat hendaknya kita merujuk kepada al-Qur’an

حفظوا على الصلوات والصلواة الوسطى وقموا لله قنتين
فان خفتم فرجالا او ركبانا فاذا امنتم فاذكرواالله كما علّمكم مالم تكونوا تعلمون

Artinya :”Peliharalah shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. berdirilah karena Allah dengan khusyuk. (328)Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalat), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui(329) (al-Baqarah)

atau firman Allah “Ruku’lah kalian bersama orang-orang yang ruku'”
Allah juga berfirman “Dan menyebut (berdzikir)Nama Allah kemudian shalat” (al-‘Ala:15) kata dzikru dan shalat dipisahkan dengan kata ‘fa’ berada dalam satu kalimat.
di ayat sebelumnya “dan berilah peringatan (fadzakkir) sesungguhnya peringatan itu bermanfaat” (al-‘Ala:9)kata dzikir di artikan peringatan.
“Dan sebutlah Nama Rabbmu dan beribadahlah kepadaNya dengan sepenuh hati” (al-Muzzammil:8)
Dzikir dengan menyebut Nama Allah diperintahkan, kemudian juga kata Beribadah dengan seruan berbeda.
Terkadang juga penyebutan kata Dzikir dibarengi dengan kata Syukur, seperti FirmanNya azza wa jalla:” Ingatlah Aku maka Aku akan mengingat kalian, Bersyukurlah padaKu dan janganlah kalian kufur”
tentunya yang dimaksud dzikir adalah mengingat dan yang kedua membalas perbuatan baik.
ada beberapa kata yang digunakan untuk menyebut shalat:
1. Shalat
2. Ruku’
3. Sujud (oleh karena itu tempat shalat dinamakan Masjid)
4. Dzikir
kata dzikir dalam surat al-‘ala:15 terpisah dengan kata shalat, sedangkan dalam ayat 9 “dzikir” berarti mengingat, dan pada surat al-Muzzammil :8 diartikan mengucapkan.
ini artinya kata “Dzikir” pada al-‘ala bukanlah “dzikir” yang dimaksud pada surat al-Baqarah:329.
ketika dzikir diartikan mengingat, sedangkan dalam shalat kita juga mengingat berarti pada surat al-Baqarah 329 itu merupakan penyebutan kata umum yang ditujukan untuk makna khusus. karena ada qarinah (indikasi) yang menunjukkan makna lain dari dzikir yaitu shalat.
oleh karena itu disimpulkan “setiap shalat termasuk dzikir, tapi tidak setiap dzikir disebut dengan shalat”
dan hukumnya pun tidak bisa disamakan. karena ada seruan khusus pula untuk menyebut Nama Rabb berarti ini ibadah yang berbeda.(al-Muzzammil :8) dan setiap ibadah adalah tauqifiyyah (sesuai dalil, seperti yang dicontohkan itulah yang dilakukan/amalkan).
adapun persamaan antara dzikir dan shalat sebagai berikut:
1. Sama-sama mengingat Rabb
2. sama-sama menyebut Nama Allah
3. Sama-sama menghapuskan dosa kecil yang telah lalu

sedangkan perbedaan antara keduanya :
1. Shalat diwajibkan bersuci (wudhu atau tayamum) sedangkan dzikir tidak.
2. Shalat diwajibkan menghadap kiblat namun dzikir tidak harus
3. Shalat diwajibkan berdiri ketika melaksanakannya (jika mampu) sedangkan dzikir tidak ada gerakan khusus.
4. shalat di mulai dengan takbiratul ihram, sedangkan dzikir tidak.
5. Shalat diakhiri dengan salam, sedangkan dzikir tidak
6. Orang yang meninggalkan shalat terancam vonis kufur sedangkan dzikir tidak
7. Shalat merupakan rukun islam sedangkan dzikir bukan.
8. Makna dzikir lebih umum daripada shalat
Para ahli fiqh memberikan makna shalat : sebagai suatu ibadah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat dan rukun-rukun tertentu.
dengan demikian shalat punya aturan tertentu dan dzikir punya aturan tertentu. dan tidak pernah ada contoh dari para shahabat, tabi’in yang mengikuti mereka dengan ihsan memberikan contoh “DZIKIR BERJAMA’AH”

kalaupun dianggap sama maknanya coba lihat lagi ayat al-Baqarah :“maka sebutlah Allah (shalat), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu” ini berarti ada ketentuan khusus dalam shalat, dan ketika diartikan dzikir pun ada ketentuan khusus yang sebagaimana Allah telah ajarkan dengan mewahyukannya kepada RasulNya -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Untuk memperjelas kita berikan gambaran demikian. Kita tahu, bahwa syari’at menganjurkan kita berdzikir kepada Allah Ta’ala. Lalu ada suatu kaum yang (senantiasa melakukannya) dengan cara berjama’ah secara serempak dengan satu suara, atau pada waktu tertentu, dengan dikomandoi oleh seorang seperti yang biasa terjadi di masjid-masjid, padahal kita tahu syari’at tidak menganjurkan yang seperti itu, bahkan justeru sebaliknya. Maka, perbuatan seperti itu jelas menyelisihi kaidah. Karena, pertama, dia telah meyelisihi kemutlakan suatu dalil dengan memberi batasan-batasan tertentu sekehendak akalnya; dan kedua, dia menyelisihi orang-orang yang lebih paham tentang syari’at daripada dirinya, yaitu para Salafus shalih. Padahal Rasulullah sendiri pernah meninggalkan suatu amalan –padahal beliau senang melakukannya- karena khawatir hal itu akan diikuti oleh manusia yang kemudian diwajibkan kepada mereka.

Bukankah kita mengetahui, bahwa yang senantiasa Rasulullah lakukan secara jama’ah, bila bukan shalat fardhu berarti shalat sunnah muakkad, menurut para ulama, seperti dua shalat Id, yaitu Idul Fitri dan Idul adh-ha, shalat Istisqa’ (minta hujan), shalat kusuf (gerhana matahari), atau semisalnya? Beliau tidak melakukannya secara berjama’ah untuk shalat malam dan perbuatan-perbuatan sunnah lainnya, karena shalat-shalat tersebut hanya mustahab (yang dianjurkan) saja hukumnya. Rasulullah sendiri menganjurkan kita melaksanakan shalat-shalat tersebut secara sendiri-sendiri. Hal itu tidak lain karena bisa menyusahkan bila shalat-shalat tersebut pelaksanaannya ditunjukkan dan dinampakkan (dengan berjama’ah).

Jadi bagaimana bisa suatu acara “Dzikiran” disunnahkan berjamaah sementara tidak ada dalil spesifik tentang disunahkannya. kemudian dikatakaan bahwa dzikir berjama’ah lebih utama daripada sendiri-sendiri. sedangkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mencontohkan shalat sunnah munfarid (sendiri-sendiri).

wallahu ‘alam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: