Mari Dakwahkan Tauhid

Mendahulukan yang terpenting dalam dakwah

Para Nabi dan Rasul –‘alaihim shalatu wassalaam- membawa agama yang satu, tidak diterima sekainnya, yaitu : Tauhid dan ikhlas hanya untuk Allah -Subhanahu wa Ta’ala- . walaupun syari’at yang dibawa oleh para Rasul berbeda antara satu dengan yang lain.
والانبياء اولاد علات أمهاتهم شتى و دينهم واحد
“Para Nabi itu saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda dan agama mereka adalah satu”
(muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu)

Bimbingan para Rasul yang merupakan tauhid diserupakan dengan ayah yang satu, dengan syariat-syariat berbeda yang diilustrasikan dengan ibu (zaman-zaman mereka diutus).
Begitu juga firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala- :
“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwa tiada ilaah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku “(al-Anbiya:25)

Seberapa pentingkah tauhid?

Inilah pokok ajaran islam, ajaran yang dibawa oleh semua Rasul dari tiap zaman.
Dengan tauhid terhapus dosa yang telah lalu dan dengannya pula menjadi pemberat timbangan amal. Sebagaimana juga terhapus semua amal ketika tauhid ini ditinggalkan oleh seseorang dan memilih jalan sebaliknya yaitu kemusyrikan.

من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة, ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار (رواه مسلم)
“Barang siapa menjumpai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sedang dia tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun maka dia masuk jannah, dan barangsiapa menemuiNya dengan menyekutukanNya dengan yang lain, maka dia masuk neraka”

dan juga dalam Firman-Nya :
ولو أشركوا لحبط عنهم ما كنوا يعملون
“Seandainya mereka mempersekutukan (Allah -Subhanahu wa Ta’ala-) niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)

ولقد اوحي اليك والى الذين من قبلك لئن أشركتَ ليحبطنّ عملك ولتكننّ من الخاسرينَ
“Dan telah kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (rasul dan para Nabi) sebelum kamu. Jika Kamu menyekutukan (Allah -Subhanahu wa Ta’ala-) maka benar-benar akan sia-sia amalanmu dan kamu benar-benar termasuk orang-orang yang merugi”

Apabila tauhid menjadi syarat diterimanya amal perbuatan seseorang, apakah ada yang melebihi pentingnya pemahaman tauhid secara benar dibandingkan dengan lainnya?

Ini berarti dakwah yang paling utama adalah dakwah kepada “tauhidullah”, bukan kepada terbentuknya pemerintahan islamiyah, bukan menyuarakan persamaan agama, bukan pula masalah ekonomi umat. Hendaknya kita memulai dari yang terpenting, meluruskan aqidah umat.
Masyarakat dengan aqidah yang benar tentunya akan memilih pemimpin yang benar sehingga pemerintahan islam yang terbentuk akan kokoh karena sokongan tauhid yang kuat, sebaliknya apabila kita memaksakan berdirinya suatu pemerintahan islamiyah tapi aqidahnya “amburadul” tidak memiliki pengertian dalam agama maka jangan harap pemerintahan yang terbentuk akan kokoh. Karena watak pembentuknya (pemikirannya) sedikit salah langsung Demo (padahal “demo” ini salah satu produksi Yahudi), tidak mengikuti syari’at berarti kafir maka harus dibangun lagi pemerintahan yang baru. Hal ini malah akan membahayakan umat islam dan hanya menyuarakan perang saudara dan menghalalkan darah sesama muslim.

Setelah aqidah tumbuh kuat, orang-orang muslim akan mengerti syari’at agamanya. Dan akan mengetahui yang hak dari yang batil secara ilmiah. Menjalankannya dengan sebaik-baiknya secara sempurna (kaaffah) bukan bersikap ingin menampilkan islam yang toleran,dan komunitas non-islam merasa tidak terganggu dengan keislaman kita. Maka dibuatlah “fikih lintas agama” supaya bisa diterima oleh non-muslim. Temanya terus berganti, tapi tidak menambah rasa taqwa kepada pendengarnya, tidak menambah rasa takutnya akan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Hari ini liberalisme, esoknya tema pluralisme, kemudian pake wacana normatif (yang penting kan hatinya…). sehingga tidak sedikit orang yang berkata: “saya ga memakai jilbab, tapi kan hati saya berjilbab, yang penting kan hatinya..”

Menganggap dakwah islam seperti dagang Roti, hari ini tidak laku besok diganti pakai isi keju, terus diberi pemanis coklat sehingga indah terlihat. Demi Allah, agama tidak seperti jualan kue,… dakwah tidak seperti jualan kue. Dakwah adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh ditempuh dengan jalan-jalan yang tidak disyariatkan.

Tidak akan menancap kuat tauhid seseorang kecuali dengan ilmu, dan ini menjadikan kajian tauhid haruslah sarat dengan ilmu-ilmu tentang al-Qur’an dan hadits. Karena bukanlah karena kemiskinan seorang muslim berganti agama tapi karena ilmu yang tidak berada dalam hatinya dia berbuat demikian.

Begitu pentingnya ketauhidan ini, sehingga awal dakwah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah tauhid, dipertengahannya tauhid dan di akhir dakwah beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah tauhid.

2 Desember 07

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: