Perkembangan Sufi (ZIndiq)

Perkembangan Tasawuf

Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa yang pasti istilah sufi ini muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali muncul, banyak yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan.

Secara singkat, Tasawuf menurut pandangan penganutnya merupakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabi’at-tabi’at / akhlaq yang hina lalu membawanya pada akhlaq yang baik sehingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat.

Dari perkembangannya, muncul kelompok sufi yang berbeda antara satu dengan yang lain yang bisa dibagi menjadi beberapa tingkatan. Diantaranya :
1. Tingkatan pertama
Yaitu kelompok yang terkenal dengan kezuhudan dan kejujuran, menjauhkan diri dari hiruk-pikuk dunia dan penyimpangan perilaku dalam ibadah, walaupun mereka ada yang berselisih dengan orang-orang yang hidup sebelum mereka akan tetapi mereka masih berpegang teguh kepada aqidah dan menyeru kepada as-sunnah serta mazhab salaf.
Kelompok ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran al-Junaid, terutama dalam masalah tauhid, ma’rifah dan mahabbah. Yang dihukumi menyimpang dari kebenaran oleh para ulama.
Ciri yang sangat penting yang dimiliki oleh kelompok ini diantaranya adalah mulai menyelisihi dan membedakan diri dari jumhur Ulama kaum muslimin sehingga mereka menjelma menjadi tarekat baru.
Al-Junaid mengatakan “Ilmu kami menyatu dengan hadits Nabi”. Mereka mensyaratkan orang yang mengikuti tarekat mereka untuk meninggalkan harta dan mengurangi makan. Meninggalkan istrinya ketika berada dalam suluknya dan banyak memberi perhatian terhadap cerita-cerita, bodoh dalam masalah fiqh juga banyak terpengaruh oleh ahlul kitab karena sering berinteraksi dengan mereka yang menyebabkan mereka semakin jauh dengan as-sunnah dan para tabi’in. Kelompok ini juga mulai membuat tempat ibadah selain masjid dan berkumpul di dalamnya sambil mendengarkan qasidah-qasidah yang bertujuan untuk memuji Nabi, dan semakin mereka menyelisihi para Fuqaha (ahli fiqih) dengan mengaku sebagai ahli kasyf (ilmu dari hati yang membuka segala kesamaran walaupun sebenarnya sama sekali tidak ada sifat ilmiah di dalamnya). Ciri-ciri yang lain adalah dalam kitab-kitab mereka banyak memuat hadits-hadits palsu dan cerita mungkar israiliyyat dan perkataan ahlul kitab.

2. Tingkatan kedua
Pada tingkatan kedua ini istilah zuhud mulai diselewengkan kepada amalan-amalan bathiniyyah, pengertian zuhud bergeser dari bentuk amal dan akhlaq kepada bentuk perenungan, kajian, ilmu kalam (filsafat) sehingga muncul lagi istilah-istilah yang baru seperti : wihdah, ittihad, fana’, hulul, sakr, ash-Shahwu, kasy dan lain-lain.
Tokoh-tokohnya antara lain : Abu Yazid al-Busthami, Dzun Nuun, Al- Hallaj, Abu Yazid al Khazaar, al-Hakim atturmudzi, Abu Bakar As-Sibly dan lain-lain.
3. Tingkatan ketiga
Pada tahap ketiga ini tasawuf mulai didominasi oleh pemikiran filsafat Yunani, dan pemikiran Hulul mulai berkembang, demikian juga dengan pemikiran wihdatul wujud yaitu pendapat yang mengatakan bahwa semua yang wujud adalah al-Haq sedangkan yang haq itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, marhalah ini adalah marhalah (perkembangan) yang paling parah dan paling mengkhawatirkan dalam sejarah perkembangan tasawuf. Pada fase ini mulai terjadi pergeseran dari bid’ah amaliyah menjadi bid’ah ilmiah yang mengakibatkan mereka sama sekali keluar dari syari’at islam. Tokoh-tokoh terkemuka kalangan mereka antara lain:
Al-Hallaj, As-Sahrurady, Ibnu Araby, Ibnu Farid dan Ibnu Sabi’in.
Selanjutnya pada abad ke-5 H, bermunculan thariqah-thariqah sufiyah yang merupakan keturunan dari sufi-sufi sebelumnya. Kemudian pada awal abad ke-6 Hijriyyah Muncul Abu Hamid al-Ghazaly yang mereka sebut sebagai Hujjatul islam dan pada abad ini pula dinyatakan sebagai abad berakhirnya pokok-pokok ajaran tasawuf.
Tokoh-tokoh mereka antara lain :
Abu Hamid Al-ghazaly, Muhyidin Ibnu ‘Araby, Abu hasan Sadzily, Abdul Qadir Jailany, Ahmad bin Abu Hasan ar-Rifa’i Muhammad Bahaudin an Naqsyabandy.

Ketika Imam Syafi’i memasuki mesir pada tahun 199 H beliau pernah mengatakan :”Saya meninggalkan Baghdad sedangkan orang-orang Zindiq disana menciptakan hal yang baru yang mereka istilahkan dengan “sama’”.
Orang-orang zindiq yang dimaksud oleh as-Syafi’i disini adalah orang-orang sufi sedangkan sama’ adalah lagu-lagu dan tarian-tarian yang dinyanyikan oleh orang sufi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: